Kultus Sunyi Dalam Kepala yang Ramai
Sore itu saya hanya duduk diam di Kampus. Membuang waktu seolah tidak memiliki kesibukan apapun. Bukan untuk lari, apalagi meratapi apa yang terjadi. Namun, mencoba untuk mengevaluasi bahwasannya "Mungkin, selama ini saya hanya dimanfaatkan oleh sistem yang mengajarkan untuk mandiri tak pernah peduli pada sesama". Tidak pernah ada orang lain yang hadir disaat situasi menjadi genting, Tapi, i ronisnya, saya dipaksa untuk selalu ada seperti malaikat di pundaknya, padahal mereka pergi entah kemana saat saya mulai rapuh. Sampai detik ini banyak sekali omong kosong yang hadir menyelimuti relung fikiran saya. Ketika saya terlahir, saya di didik untuk setiakawan, kompak dan senantiasa mengedepankan kebersamaan. Namun, dalam setiap rasa sakit yang saya rasakan, tidak pernah ada yang peduli. Bahkan saya sampai lupa, kebersamaan yang seperti apa yang mereka maksud itu? Ibarat menjadi payung dikala badai, yang mengharuskan saya untuk bertanggung jawab penuh, ...