Kultus Sunyi Dalam Kepala yang Ramai
Sore itu saya hanya duduk diam di Kampus. Membuang waktu seolah tidak memiliki kesibukan apapun. Bukan untuk lari, apalagi meratapi apa yang terjadi. Namun, mencoba untuk mengevaluasi bahwasannya "Mungkin, selama ini saya hanya dimanfaatkan oleh sistem yang mengajarkan untuk mandiri tak pernah peduli pada sesama". Tidak pernah ada orang lain yang hadir disaat situasi menjadi genting, Tapi, ironisnya, saya dipaksa untuk selalu ada seperti malaikat di pundaknya,
padahal mereka pergi entah kemana saat saya mulai rapuh.
Sampai detik ini banyak sekali omong kosong yang hadir menyelimuti relung fikiran saya. Ketika saya terlahir, saya di didik untuk setiakawan, kompak dan senantiasa mengedepankan kebersamaan. Namun, dalam setiap rasa sakit yang saya rasakan, tidak pernah ada yang peduli. Bahkan saya sampai lupa, kebersamaan yang seperti apa yang mereka maksud itu?
Ibarat menjadi payung dikala badai, yang mengharuskan saya untuk bertanggung jawab penuh,
sama seperti orang tua yang mengasuh anak - anaknya dengan penuh komitmen.
Seolah diminta bertanggung jawab atas isi dunia yang bahkan bukan milik saya seorang, membuat saya kembali menerka : "Apakah ini hanya akal - akalan para terdahulu saja?". Lantas jika memang benar, betapa bodohnya Saya yang berulang kali terjerumus ke dalam permainan liciknya itu.
Sulit sekali untuk melepaskan diri dari permainan ini. Seperti tikus yang terjerat ke dalam sebuah perangkap, rasanya bercampur antara ketakutan, kekangan dan rasa sakit. Bahkan tidak ada yang bisa melepaskan perangkap ini tanpa melukai, tidak ada seorang yang benar - benar profesional disini, hanya ada sekumpulan manusia yang memiliki hati untuk membantu membuka dari jeratan yang mengikat sangat kuat. Bahkan itu pun tidak cukup.
Kemudian, setelah banyaknya luka yang ada akibat perangkap itu. Entah apa yang bisa saya lakukan selain mengutarakan pendapat yang sudah tidak lagi bisa didengar oleh orang - orang tuli secara mendadak. Saya heran, mengapa saya seringkali di kultuskan ke dalam sebuah perjamuan besar yang hanya bisa dinikmati oleh para elit dan kaum bangsawan saja. Mungkin, saya memang cocok untuk menjadi jamuan. Namun, Ego mereka tidak pernah kenyang.
Hina sekali saya, seperti seorang pelayan rendahan yang sedang berdiri diantara pemuja patriarki dan otoriterisme. Saya terheran - heran dengan realitas semu ini, seperti sebuah jamuan sialan yang selalu menghadirkan peran "korban yang berulang". Mendapati apa yang mereka fikir tentang saya, rasanya lucu sekali.
Mereka melihat saya seolah ingin melompat kegirangan setiap hari—
Padahal mereka juga tau bahwasannya ruangan ini terlalu sepi untuk merayakan. Kemudian, apabila tidak sesuai dengan harapan, seorang Pemuja Patriarki akan melampiaskan amarahnya. Bukan pada kesalahan, tetapi pada martabat saya. Pada saat itu kekecewaan muncul, namun rasanya masih bisa dibendung. banyak hal yang terjadi di luar dugaan yang menyebabkan nama saya tercoreng. Ibarat dilempar tai di depan muka, oleh tangan yang saya bantu berdiri. Ditampar diam-diam oleh sistem yang pura-pura netral. Bahkan, ungkapan "brengsek" sudah tidak lagi melegakan saya dalam mencaci dirinya.
Setelah selama satu jam saya merenung, saya sadar bahwa saya terlalu sering berjuang untuk hal-hal yang tidak pernah ingin saya menangkan. Beberapa luka memang tidak butuh penjelasan. Melainkan hanya ingin diakui, lalu dibiarkan sembuh dengan caranya sendiri tanpa campur tangan dari mereka yang terlibat dalam menyakiti.
Komentar
Posting Komentar