Bandung, 2024.

"Kenapa Bandung?..." Tanya mereka yang sering menonton tiktok dengan caption puitis dan lagu sendu. Di Bulan Agustus, menginjakan kaki di kota ini terasa menyegarkan, seperti pelarian yang diatur dengan sempurna.  "Perjalanan ini menyenangkan" ucapku. Katanya, "Bumi Pasundan Lahir Saat Tuhan Sedang Tersenyum" Mungkin itu alasan yang cukup kenapa memilih kota ini. Apakah memori baik akan selalu terulang dengan menyenangkan?, Belum tentuNyatanya, berbanding tebalik dengan yang terjadi di bulan Oktober - November kala itu. Bahkan, ketika pertanyaan itu dilontarkan (lagi), Saya tidak tau jawabannya apa selain, t-e-r-p-a-k-s-a"Memangnya kota apa ini?", "Apa yang menarik dari sini?", "Apa yang membuat kota ini spesial?", Pertanyaan itu semua muncul karena seketika tidak ada yang menarik perhatian di kota ini, rasanya hanya menimbulkan kebingungan dan kesengsaraan yang asing. Saya bisa saja setelah itu berjalan - jalan mencari makna atau bahkan sekedar bersenang - senang dengan mereka yang berasal dari luar pulau ini. Namun, sayangnya Saya terbelenggu dengan idealisme "Cepat cepat selesaikan, dan pulang!". Pada saat itu saya menyimpulkan, bahwasannya "Saya Benci Bandung, dan segala kenangan tentang perjalanan tanpa arahnya". 

Perjalanan kedua saya disini dilandasi dengan tebalnya keterpaksaan, dan ribuan tekanan yang mendebarkan, Bandung cukup menjadi saksi bagi Saya, bahwasannya banyak mimpi yang bisa saja terjerat oleh rantai - rantai kecemburuan yang didasari oleh kemalasan dan tingginya egosentris seorang manusia yang mengaku bahwa dirinya adalah seorang kakak.  Sejak itu, saya memiliki kenangan buruk tentang kota ini. Kesendirian akut. Tidak ada teman. Tidak ada Saudara/i. Pulang Pagi berangkat Pagi. Memaksakan diri untuk bersosialisasi. Tidak Tau Harus Tidur Dimana. Menumpang yang Menampung. Uang Seadanya. Tidak ada yang menelfon atau menanyakan kabar dan masih banyak lagi. Namun, siapa-lah Saya berharap pada kekeluargaan palsu ini. Untungnya, Tuhan mendengar doa si penakut ini dengan perantara Orang Bijak. "Setidaknya, Saya masih bisa bertemu orang normal, yah.. meskipun keluarganya tidak semuanya menerima, persetan lah! setidaknya saya diperbolehkan menumpang". Mungkin bagi mereka yang sangat menyukai solo travelling atau backpacker seorang diri hal seperti ini dirasa menyenangkan atau memacu adrenalin, namun bagi saya pribadi pengalaman ini menyeramkan, hal ini cukup sekali dalam seumur hidup, dan jangan sampai terulang lagi. 

Pada September, 2024. 
Saya mengabari seseorang, anggaplah ia seorang saudari yang tumbuh bersama Saya di tempat itu. Kala itu, Saya sudah putus asa dengan manusia yang disebut "partner", Saya pikir di dunia ini sudah tidak ada lagi yang namanya rekan perjalanan ataupun partner jika bekerja dan berproses sendirian, "Kenapa saya harus menunggu orang yang dikatakan sebagai partner itu? toh kerjanya hanya menyusahkan saja, untuk apa? Saya sudah benar - benar putus asa dengan keadaan seperti ini, kalian masih punya rekan sejalan, kalian setidaknya berjalan bersama, bukan sendiri. Saya sudah tidak akan memedulikan lagi yang lain. Toh orang - orang yang mengaku sebagai kakak juga tidak punya ambisi untuk melanjutkan pendidikan ini, maka saya akan berjalan sendiri. Dengan, atau tanpa restu mereka semua!" ucapku kepadanya dini hari itu.  Namun, yang lebih terkejut lagi ia bilang "Berjalanlah, tidak ada yang menahanmu untuk berproses disini". 

Oktober, 2024.
Entah kenapa, semenjak itu dorongan untuk menyelesaikan pendidikan ini besar. Sebetulnya, Saya sengaja bicara padanya kala itu. Karena, Saya sudah tidak memiliki siapa - siapa lagi disini. Tempat yang katanya rumah, ternyata terlalu banyak kamar yang terkunci. Terlalu banyak kubu. Lebih baik Saya menyelesaikan sendiri, daripada dilempar kepada kubu yang sudah tidak menginginkan sebuah perjuangan dan kebersamaan keluarga. Persetan kekeluargaan. Semuanya palsu disana. Terlebih, dengan banyaknya kubu yang sengaja dibuat dengan sistem yang rusak. Sepertinya.. bagi mereka yang masih memiliki rekan sejalan, perjalanan Saya semacam ini sepele. Namun, bagi Saya pribadi ini langkah awal untuk Tidak Bergantung Kepada Orang Lain. Saya sempat merasa iri kepada mereka yang diperhatikan, diutamakan dan memiliki tim yang kompak. Sungguh sebuah kehormatan dan nikmat yang besar. Dalam perjalanan ini Saya menyadari banyak hal. Kecemburuan, Ketimpangan dan Iri Dengki kerap kali membatasi langkah untuk berbagi pengalaman. Sialnya, Saya berproses di lingkungan yang beracun. Bahkan untuk tanaman yang bertahan hidup, Ia harus berubah jadi mutan. Di tempat seperti ini, ketahanan bukan lagi kebajikan, melainkan penyimpangan yang dianggap wajar. Mungkin Mereka berfikir betapa nikmatnya menjadi seorang pemaksa. Seolah kuasa adalah satu-satunya bahasa yang dipahami. “Hanya seperti itu saja regulasinya?” tanya mereka, atau mungkin itu suaraku sendiri yang memantul di dinding-dinding kepala yang riuh. Namun, pertanyaan yang terus bergaung lebih sunyi dan lebih tajam "Lantas, seharusnya seperti apa lagi?" Sistem ini berjalan pincang, setengah hidup, setengah mati. Aturannya ada, tetapi tak utuh; suaranya lantang, tetapi kehilangan makna. Saya tak mampu mengatakan lebih banyak selain satu kesimpulan yang pahit: sistemnya rusak, dan lingkungan ini telah lama tercemar limbah. Limbah Ego, limbah kuasa, limbah kebencian yang diwariskan dari satu tangan ke tangan berikutnya. Di tengah semuanya, Saya berdiri bukan sepenuhnya bersih, bukan pula sepenuhnya tercemar. Hanya mencoba memahami apakah Saya bagian dari kerusakan itu, atau sekadar saksi yang terlambat menyadari bahwa tanah tempat berpijak yang sejak awal tak pernah subur, lingkungan ini benar - benar tercemar oleh limbah. 

Apa yang Saya lakukan? 
Disaat ego dan gengsi meninggi, Saya berusaha menjatuhkan diri ke dalam sebuah jurang. Berharap tetap saama dan setara. Namun, betapa naifnya seorang manusia setengah dewasa itu. Pada akhirnya Mereka tetap merasa Superior, tanpa tau beban yang dipikul. Hal lain yang membekas dalam benak saya tentang perjalanan ini adalah sebesar apapun saya menceritakan kisah ini, mereka tidak akan paham. Karena tidak merasakan sendiri. Saya terlalu menyalahkan Bandung atas segala hal buruk yang terjadi, ternyata memori itu acak. Kadang tersimpan di wangi, kadang tersimpan di lagu, dan kadang juga tersimpan di tempat. Jika dibaca dengan seksama, Saya hanya menyalahkan Bandung karena banyaknya hal buruk yang menimpa Saya. 

Puncaknya terjadi pada suatu malam, saat saudari Saya telah menyelesaikan kewajibannya. Begitu pula Saya, sudah menyelesaikan bagian Saya. Tapi, kenapa tidak ada tindak lanjut. Katanya, Saya masih kurang pantas. Saya sampai bingung. "Pantas seperti apa yang ingin dicapai?". Mungkin Saya bukan Avatar yang bisa mengendalikan 4 elemen sekaligus. Namun, di sini bukan itu capaiannya. Sepengetahuan Saya, kita hanya diharuskan untuk menguasai satu identitas saja bukan?. Anehnya, ini semua hanya terjadi pada Saya, dan betapa brengseknya hanya Saya yang merasakan. Bercerita kepada siapa lagi. Miris. Ibarat memiliki klan, tetapi isinya sampah. Saya mendapati pesan teks yang menyatakan "Belum Pantas, Meskipun Sudah ditempa Berkali - Kali, Kami Belum Lihat Hasilnya". Lucunya, ketika membaca pesan itu Saya hanya tertegun. Tidak bisa bicara seperti orang bisu. Kala itu Saya hanya bisa mengeluarkan kalimat sumpah serapah. Menangis pun tidak melegakan suasananya. Setelah membaca kalimat itu saya pergi ke tempat persembunyian diri, di tempat yang gelap dan tidak ada orang satupun. Saya harap, tidak ada yang tau Saya kesana, Saya ingin menenangkan diri terlebih dahulu, seorang diri, dan tanpa ditemani. Saya  terlalu marah untuk menjawab panggilan seseorang waktu itu, dan tidak berfikir akan diikuti sampai tempat ini. Awalnya, Saya pun ingin melampiaskan amarah Saya padanya. Namun, Saya tidak mau menyakitinya dengan kalimat sampah yang akan keluar dari mulut ini. "Ia sudah terlalu khawatir sampai mengikuti kesini" pikir Saya. Meski di tempat itu tak ada seorang pun selain dia, kala itu bukan kesunyian yang menyelimuti, melainkan riuhnya isi kepala yang terus berkata bahwa “Saya tidak pantas.”.  Mereka semua merasa SuperPower, dan saat itu juga Saya ingin berteriak ke Mereka "Kalian Curang, Kalian Ramai. Saya Sendirian di sini, Saya Rapuh Pun Kalian tidak akan tau, dan kalian hanya iri, bahwasannya saya telah usai menyelesaikan kewajiban ini". Malam itu Saya tidak bisa berbicara banyak untuk menjelaskan penderitaan kesendirian ini padanya. Hanya isak tangis yang terdengar. Hadirnya Ia dikala itu menenangkan pikiran liar yang sedang berkecamuk. Tanpa banyak kata, tanpa ceramah panjang, dia hanya duduk di samping saya. Dan entah bagaimana, itu cukup.

Di tengah riuhnya pikiran yang terus mengatakan bahwa saya tidak pantas, keberadaannya seperti jangkar. Tidak menghakimi. Tidak membandingkan. Tidak menuntut saya menjadi lebih dari yang sudah saya usahakan. Saat saya terisak dan tak mampu menjelaskan apa pun, dia tidak memaksa. Mungkin dia tidak sepenuhnya mengerti luka ini, tetapi dia memilih untuk tetap tinggal. Dan dari situ saya bertanya, "Mengapa dia masih di sini dan membuang waktunya hanya untuk menemani?". Mungkin saya terlalu sibuk mendengar suara mereka, sampai lupa ada satu suara yang jauh lebih tulus. Suara yang tidak berteriak, tidak menekan, tidak merendahkan. Suara yang hanya berkata melalui tindakannya: “Kamu tidak sendirian”. Malam itu saya mengerti bahwa cemburu sosial bisa datang dari mana saja, bahkan dari adanya Ia disisi Saya kala itu juga membuat rasa cemburu itu berkobar. "Andai Saya adalah Dia, yang masih memiliki partner, dan yang masih memiliki Klan yang suportif". 

Hadirnya menegaskan bahwasannya : Tidak semua perjuangan akan langsung terlihat hasilnya oleh orang lain. Tidak semua proses harus disaksikan ramai-ramai agar dianggap nyata. Ada kerja keras yang sunyi, ada air mata yang tidak terdokumentasi, ada luka yang sembuh tanpa tepuk tangan. Mereka boleh merasa memiliki SuperPower. Mereka boleh berdiri berkelompok dan bersuara lantang. Namun, Saya juga punya kekuatan, kekuatan untuk tetap berdiri meski sendirian, untuk tetap menyelesaikan kewajiban meski tidak dihargai, untuk memilih diam agar tidak menyakiti.

Dan itu bukan kelemahan. 

Jika saya mampu bertahan pada malam seberat ini, maka saya juga mampu melangkah pada pagi berikutnya. Mungkin saya bukan Avatar yang menguasai empat elemen. Tapi saya menguasai satu hal yang tidak semua orang miliki: ketahanan. Biarlah waktu yang membuktikan. Biarlah hasil yang berbicara. Saya tidak perlu menjadi versi hebat di mata semua orang. Saya hanya perlu menjadi versi yang terus bertumbuh dari hari ke hari. Malam itu, di tempat gelap yang menjadi saksi, saya tidak lagi berteriak dalam hati. Saya berjanji pada diri sendiri saya akan tetap berjalan. Bukan untuk mereka. Tapi untuk saya. Momen seperti ini juga sebuah proses, maka Saya memutuskan bahwasannya Malam itu adalah pembelajaran, kekuatan bukan selalu tentang membuktikan diri di hadapan banyak orang. Kadang kekuatan adalah tentang membiarkan seseorang melihat kita dalam keadaan paling rapuh dan tetap diterima. Di sela - sela diselimuti kecemburuan sosial, Ada Kumpulan Remaja Setengah Dewasa yang turut hadir membersamai dalam menyelesaikan drama kewajiban ini. Pelan - pelan seluruh perasaan cemburu sosial itu pulih, dan selama masih ada satu orang yang percaya saya mampu, maka kata “belum pantas” bukanlah akhir. Namun, hanya jeda. Saya akan kembali berjalan, setidaknya dengan keyakinan bahwa Saya pernah ditemani saat diri ini dihajar sampai hancur.

Maret, 2025. 
Datang hasilnya bulan ini, dengan segala lika - liku, dan kepalsuan yang semakin menebal. Penantian panjang yang dulu terasa menyakitkan kini menjelma menjadi jawaban. Bukan jawaban yang gemuruh dengan sorak sorai, melainkan jawaban yang tenang. Hasil itu hadir tanpa banyak kata, seolah berkata, “Prosesmu tidak sia-sia.” Kalimat buruk yang pernah menggema kini terdengar samar. Karena saya telah melewatinya. Lika-liku itu nyata. Kepalsuan itu juga nyata. Namun, yang lebih nyata adalah ketahanan yang tumbuh diam-diam di dalam diri. Maret ini bukan sekadar tentang hasil. Ini tentang pembuktian pada diri sendiri, bahwa saya mampu bertahan lebih lama daripada keraguan mereka. Ternyata, Ambisi saya lebih bersar dari janji manis Mereka yang tidak pernah ditepati. 

Teruntuk yang sedang dan pernah merasakan penderitaan semacam ini sendirian, Saya mau berucap Kamu tidak lemah hanya karena lelah. Kamu tidak gagal hanya karena belum diakui. Dan kamu tidak sendirian, meski rasanya dunia seakan menutup mata. Ada malam-malam panjang yang terasa tidak adil. Ada kalimat tak pantas yang menghantam lebih keras dari yang terlihat. Ada usaha yang tidak dihargai, dan ada air mata yang jatuh tanpa saksi. Tetapi percayalah, proses yang sunyi bukan berarti sia-sia. Jika hari ini masih bertahan, itu adalah bukti kekuatan yang tidak semua orang miliki. Mungkin hasilnya belum datang. Mungkin pengakuannya belum terdengar. Namun selama kamu terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu, kamu sedang membuktikan sesuatu, bukan kepada mereka, melainkan kepada dirimu sendiri, dan ketika waktunya tiba, hasil itu akan datang. Bukan untuk membungkam orang lain, tetapi untuk memeluk dirimu yang pernah hampir menyerah. Tetaplah berjalan. Meski pelan. Meski sendiri. Karena suatu hari nanti, kamu akan melihat ke belakang dan sadar ternyata kamu sekuat itu menerjang ombak di samudra lepas.




 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultus Sunyi Dalam Kepala yang Ramai

Segelas Kopi Americano Sebelum Kapalnya Karam