Segelas Kopi Americano Sebelum Kapalnya Karam
Aku suka Kopi. Apalagi jika di tambahkan dengan sedikit gula dan es batu yang menjadikannya dingin, kata barista yang sering kutemui, "Namanya Americano, Bukan kopi asli tetapi rasanya masih jujur dengan karakteristiknya". Kalimat itu selalu menempel di kepala, seolah mengingatkanku bahwa hal-hal yang jujur tidak selalu harus murni. Akhir - akhir ini, kriteria Americano dengan takaran Double Shoot, Less Sugar, ukuran Large sedang menjadi favoritku. Biasanya aku memesan setelah bertanya pada diri sendiri, “Lambungku hari ini aman nggak, ya?”, semacam ritual kecil sebelum kembali menyelam ke hari yang riuh.
Cocok untuk doppingan keseharian yang penuh dengan hiruk pikuk Ciputat. Terlalu ribut, terlalu penuh, terlalu cepat. Tiap tegukan bukan sekadar kafein, tapi semacam alarm halus bahwa hari ini harus tetap dijalani. Mungkin ini caraku bertahan. Mungkin ini bentuk lain dari merawat kewarasan. segelas kopi dingin, percakapan basa-basi dengan barista, dan beberapa menit tenang sebelum kembali berlari. Kadang aku hanya ingin duduk diam, menikmati segelas Americano, dan pura-pura melihat dunia baik-baik saja. Di antara keseharian seorang aktivis, rapat yang tak pernah habis, dan percakapan-percakapan singkat yang terasa kosong, kopi adalah jeda. segelas kopi dingin, percakapan basa-basi dengan barista, dan beberapa menit tenang sebelum kembali berlari.
Hari ini masih berjalan seperti biasanya yang dimulai dari bangun pagi buta untuk shalat, kemudian menyempatkan diri untuk mencuri sisa tidur semalam, tidak lama kemudian bergegas ke kampus dengan mata setengah sadar. Di sore hari, Aku menyempatkan waktu untuk nongkrong di sekret seolah itu bentuk terapi paling masuk akal dan menggenggam niat yang seadanya itu untuk mengerjakan tugas dini hari nanti. Pulang pagi lagi, entah pagi atau larut yang terlalu dini, merebahkan diri sampai tertidur pulas. Semuanya berulang, dari hari berganti menjadi minggu, dan minggu berganti bulan, sampai menjadi tahun.
Tanpa kusadari ternyata semenjak 2020 aku kecanduan kafein.
Sial.
Semua berjalan begitu saja, beberapa orang berkata bahwa "waktu berlalu begitu cepat". Namun, Aku tidak merasakan kecepatan waktu, mungkinkah ini bentuk lain dari relativitas batin(?), ini hanya pra-duga setengah sadar di pukul dua pagi. Bagiku, waktu seperti genangan air yang diam. Tak bergerak, tak tergesa. Hari-hari terasa panjang, namun tidak berarti lebih dari sekedar upaya penuntasan tuntutan manusia lain. Waktu berlalu, tapi aku tetap di sini.
Tuntutan manusia - manusia itu menjelma jadi sebuah tanggung jawab, tak lain dan tak bukan : MENGIKAT.
Rasanya seperti terikat rantai besi kokoh bak sebuah konduktor, yang mengalirkan arus listrik atau panasnya api sebab pada akhirnya membakar dan memberikan rasa sakit dan meninggalkan bekas apabila langsung terkena kulit. Banyak yang memilih untuk melarikan diri, berdalih dengan alasan - alasan yang tidak masuk akal. Garis besarnya terjadi karena adanya egosentris.
Sebagai navigator yang memandu pelayaran kapal ini menuju pulau harapan itu, Aku beberapa kali berpikir "Akankah ikatan ini luruh, setelah kutuntaskan segala beban dari manusia yang mempercayakan arah pelayaran kapal ini padaku?". Sebagai navigator, yang bahkan tak tahu ke mana dirinya ingin berlabuh rasanya sulit menerima terjangan ombak di laut lepas ini, badai yang datang berulang kali sering membuatku kehilangan keseimbangan yang membuat kompas ini hilang arah. Namun, di tengah usahaku menyeimbangkan langkah sampai menemukan arah lagi, ada satu kutipan yang terus kujadikan pegangan semacam kompas di tengah kabut yang menyesakkan. Katanya"Sebesar apapun ombaknya di laut ini, dan sebesar apapun badai yang dilewati, jangan pernah mencoba untuk melompat dari kapal". Lantas, bagaimana kabar mereka yang jatuh ke tengah laut? apakah mereka bertahan ditepian dengan gulungan ombak besar atau justru tenggelam sampai dasar? adakah seseorang yang menyelamatkan mereka?
Mereka yang tenggelam tidak selalu karena tidak kuat bertahan, atau pasrah. Bisa saja, mereka tenggelam karena memang itu adalah satu - satunya cara untuk bertahan hidup, bertahan hidup dengan menghemat energi dan nafas yang masih tersisa. Struggle dalam bertahan hidup setiap orang berbeda karena pola pikir, jalan cerita dan latarnya berbeda. Mungkin tuhan menciptakan kita seperti ini alasannya supaya tidak monoton ungkapku dalam hati.
Mungkin Tuhan menciptakan kita begitu, agar hidup tidak monoton.
Pikirku, sambil menatap es yang perlahan mencair di gelas plastik bening di sebuah kafe biru.
Entah bagaimanapun caranya, aku berharap satu gelas kopi ini cukup untuk membuatku tetap waras setidaknya sampai esnya benar-benar habis.
keren banget, monolognya liar!
BalasHapusSOON AMERICANO X ESPRESSO!!
BalasHapus