Berani Bertindak atau Berani Diinjak?

Di sebuah meja yang sama, terdapat tiga kepala yang sedang duduk dengan mimpi yang dipaksa searah.
Masing masing memiliki nama, mereka adalah warna. 
Mereka bukan warna primer dan tidak bisa berdiri sendiri.
Namun, mereka tercatat dalam sebuah sejarah kecil peradaban.

Tercipta dari kumpulan percampuran warna yang tak selalu selaras. 
Mereka adalah Dongker, Magenta, dan Abu.
Karakteristik mereka benar-benar berkebalikan.
Namun justru di situlah letak ciri khasnya.

Dongker hadir seperti kedalaman yang tenang, dan menyimpan banyak rahasia.
namun sering kali berubah menjadi gelap yang menelan cahaya.
Ia percaya dirinya adalah sebuah kompas, meski tak jarang lupa bahwa kompas juga butuh peta.
Dongker mulai berani dan percaya diri, 
maka ia berdiri paling depan dengan suara paling lantang,
ia rasa langkahnya paling benar seperti kompas dunia hanya menunjuk ke arahnya. 
Mungkin, itu adalah bentuk kepercayaan diri yang tiada habisnya karena menimbun ribuan pujian. 
Ketenangan dan kedalaman menyimpan banyak misteri yang bahkan tidak akan dipedulikan warna lain.

Magenta berusaha mengimbangi dengan berjalan disampingnya, 
namun ternyata, warnanya kian memudar termakan oleh dalamnya samudra.
maka ia mundur, dan berjalan dibelakangnya,
memungut sisa-sisa yang terjatuh, barangkali masih dibutuhkan (?)
merapikan jejak yang berantakan,
menjahit ulang kesalahan yang bukan miliknya,
lalu diminta menjelaskan segalanya
seakan ia yang menciptakan badai.
namun mereka tercatat dalam sebuah sejarah kecil peradaban.
Magenta adalah gerak yang tak pernah benar-benar berhenti.
Ia merapikan yang kusut, berusaha menyusun yang runtuh,
menjadi jembatan bagi retakan yang bahkan bukan ia yang ciptakan.
Namun anehnya, setiap tanya selalu kembali padanya seolah ia adalah jawaban dari segala yang tak pernah ia mulai.

Abu berdiri di antaranya.
Tak mencolok, tak menuntut, tak mengeluh.
menjadi jeda di antara dua warna yang terlalu keras dengan karakteristiknya masing masing.
Ia memilih mengalah, bukan karena tak mampu bersuara,
melainkan karena tahu tidak semua perang layak dimenangkan.
Ia adalah wujud dari kebijaksanaan dan kedewasaan.
Abu..
Campuran warna yang sulit digapai kecuali dengan camputan hitam dan putih. 
Mungkin, alasan adanya warna netral adalah sebagai penengah gemuruh riuh badai tropis.
memilih diam di tengah segala gemuruh riuh karakteristik yang menonjol,
menjadi penyeimbang yang nyaris tak terlihat,
mengalah bukan karena lemah, tapi karena lelah melihat dua ciri yang ia pertahankan telah bertabrakan.

Hari-hari mereka berjalan tanpa benar-benar berjalan.
Langkah tetap ada, tapi mereka hanya berjalan ditempat.
Arah kerap kali hilang dalam karakteristik yang saling bertubrukan.

Mereka pikir, tidak ada yang melihat. 
tidak ada yang peduli, 
dan, tidak ada yang mendengar.
waktu perlahan mengubah arah angin.

Hari berlalu seperti itu,
bukan lagi tentang tujuan,
melainkan tentang siapa yang paling ingin didengar.

Sampai suatu titik,
pertanyaan sederhana menggantung di udara:
apakah akan terus berjalan sambil menahan luka,
atau berhenti sejenak untuk berkata, “cukup”?
Karena dalam setiap perjalanan bersama,
selalu ada harga yang harus dibayar.

mereka memberanikan diri untuk bertanya pada dirinya sendiri
apakah mereka akan terus memudar demi menjaga ilusi kebersamaan,
atau mulai berani menjadi warna yang utuh meski itu berarti tak lagi berada di kanvas yang sama?

Entah itu keberanian untuk bertindak,
atau kenyamanan untuk terus diinjak. Pada akhirnya,
yang paling menyakitkan bukanlah lelahnya langkah,
melainkan diam yang terlalu lama dipelihara.

Karena pada akhirnya,
bukan tentang warna yang paling dominan,
melainkan siapa yang cukup berani untuk tidak terus-menerus tercampur hingga kehilangan diri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kultus Sunyi Dalam Kepala yang Ramai

Segelas Kopi Americano Sebelum Kapalnya Karam

Bandung, 2024.