"Kacang Lupa Kulit (?)"
Di perjalanan ini, ada pasangan tua yang sempat hidup bahagia, sampai pada suatu ketika salah satu dari dua orang tersebut mati. Kematiannya cukup meninggalkan bekas pada beberapa orang, terutama pada seseorang cucu yang takut dimarahi oleh seisi dunia akan kesalahan yang tidak sengaja ia buat. Mundur ke beberapa waktu silam, hidup seorang nenek dan kakek yang di masa tua-nya masih bekerja, dan mungkin menurut mereka itulah “kehidupan di masa tua yang mereka inginkan”, entah karena memang ingin atau karena keadaan.
Di suatu ketika Sang Nenek mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang lengannya patah. Waktu pun berlalu, ada 2 cucu yang sedang asyik bercanda dengan sang nenek. Sebut saja namanya Dono dan Dana. Lengan Nenek tidak sengaja tersenggol oleh Dono, nenek masih tertawa namun tak kuasa menahan sakit di tangannya yang sedang dalam masa pemulihan, ia pun menangis tanpa sadar. Nenek tidak marah sama sekali. Namun, cucu sudah terlebih dulu mendapatkan ancaman dari Ayahnya, “Jika sampai menyakiti nenek, maka kamu akan dibenci oleh seisi keluarga ini”, Sejak saat itu si cucu marah, dan malah mengutuk si nenek. Tanpa sadar, Dono menjadi benci kepadanya. Hari demi hari berlalu, dan semakin hari Dono hanya merasakan teror ancaman yang tidak terlihat, ia bisa saja cerita. Namun, Dono terlalu takut untuk dibenci oleh keluarganya. Karena pada dasarnya, ia sering kali menjadi sasaran kebencian di lingkungan sekitarnya. Ia tidak mau jika seisi keluarganya juga membencinya. Entah apa yang dilakukan Dana, ia masih belum paham, bahkan ia pun sering menyalahkan Dono atas segala yang terjadi. Dono bercerita “Bahkan, ketika aku diberikan (anggap saja hadiah) tidak aku terima sama sekali, aku benar – benar marah, aku benar – benar berpikir aku membencinya untuk waktu yang lama”.
Sampai suatu ketika dimana Si
Nenek mengalami sakit yang tidak ada obatnya, semua cucu dan anak anaknya hadir
untuk menemani di saat – saat terakhirnya, namun Dono hanya dilanda oleh rasa
takut yang besar. Ayahnya pulang ke kampung halamannya untuk menjenguk si
Nenek, “barangkali.. Ia hanya rindu anak anaknya” Bahkan, sampai saat
itu Dono tidak ingin dan tidak berani menunjukkan wajahnya di hadapan neneknya,
dan ia hanya berharap seisi dunia melupakannya saja. Dono mengira bahwasannya
ia adalah satu – satunya cucu yang memang tidak disayang, dan terlupakan. Maka
dari itu, ia pikir Neneknya pun tidak akan mencarinya.
Sampai pada 2 September 2019 pukul
02.30 Dono mendengar ayahnya menangis, bahkan ia tidak pernah sekalipun melihat
ayahnya meneteskan air mata. Tapi, untuk saat itu Ayahnya menangis tersedu –
sedu kalang kabut mencari tiket transportasi umum yang berangkat detik itu
juga, dan menelfon sana sini, mempacking baju yang entah baju apa yang telah
dimasukkan ke dalam tasnya, Saat itu Dono masih tidak mengerti bahwa “Dunia
Ayahnya Telah Hancur”, Dono masih bersikeras, tidak ingin ikut dengan
Ayahnya dan melihat Neneknya untuk terakhir kalinya. Ibunya sakit, itu menjadi
alibi yang cukup untuk tidak menghadiri pemakaman neneknya. Bahkan, ia tidak
berfikir akan menyesal di kemudian hari, dan tetap marah atas apa yang terjadi.
Hari pun berlalu, ia menangis di
sudut kamarnya. Segala sumpah serapah ia keluarkan, namun, waktu tidak bisa di
ulang. Kini hanya penyesalan yang menyelimuti-nya. Bodohnya, Dono sempat
berfikir bahwa “segalanya akan tampak sama saja dengan ada atau tidaknya
Nenek di duniaku” dan ini adalah pikiran paling bodoh yang sialnya sempat
terlintas dalam benaknya. Semenjak hari itu, Dono melihat anak – anak neneknya
yang kian durhaka kepada Ayahnya. Entah Kesalahan apa yang pernah dilakukan
oleh Sang Kakek. Namun, tidak ada anaknya yang “mendengarkannya”, atau bahkan
sekedar menghormati pun tidak ada.
Dono masih belum paham betul
dengan konsep “Anak Durhaka” ia hanya anak lulusan SMP yang hendak
melanjutkan pendidikannya ke SMA. Tahun silih berganti, sampai akhirnya pada
2021 Kakek pun mulai sakit – sakitan, tetangganya bilang “Laki – laki tanpa
perempuan, umurnya tidak akan jauh”, namun entah kenapa rasanya ucapan itu
hanya “bohong”. Dono tidak pernah mau mempercayai ucapan itu.
Tahun demi tahun berlalu, Anak –
anak si kakek tidak lagi berbakti, dan semakin lama semakin terlihat, betapa
sakitnya akal mereka, dan sebegitu nyata-nya anak yang durhaka kepada orang
tua, anak yang hanya ingin harta orang tuanya, tidak lain dan tidak bukan
berada dalam keluarganya sendiri.
Ada suatu cerita yang Dono dengar
ketika sedang berada di Bandung. Kakeknya pulang kerumahnyasetelah lama tidak
pernah pulang. Kakek pulang ke rumah itu hanya karena ingin bernostalgia dan
rindu kepada Nenek. Ternyata disaat Kakek pulang ke tempat yang setidaknya
pernah ia sebut sebagai rumah, sedang dihancurkan. Anak – anaknya bilang itu
sedang merekonstruksi, namun rekonstruksi yang seperti apa?. Terasa tragis,
tempat yang ia sebut – sebut sebagai rumah, tidak lagi “Menjadi rumah
seutuhnya”. Pada kenyataannya rumah itu memang di-hak-milik oleh anak
anaknya, bak diusir dari rumahnya sendiri dan tidak dibiarkan tinggal disana.
Mengapa tidak lagi menjadi rumah seutuhnya?. Pertama, tidak ada orang yang bisa
dijadikan tempat untuk tinggal. Kedua, tidak ada rumah dalam bentuk fisik. Dono pun terheran – heran dengan tingkah laku
kedua pamannya.
“Bagaimana aku bisa membantu
Kakek, disaat ia saja tidak ingin tinggal bersamaku”. Ia masih terlalu kecil
untuk diandalkan, dan belum cukup umur untuk mengerti arti sebuah penderitaan
dan kesendirian. Sampai pada suatu hari ketika Dono pergi menemui kakeknya,
Kakeknya mengucap kalimat yang membuatnya tertegun. Ucapannya berupa “Istriku
telah benar – benar mati, rumahku dicuri, asetku tidak lagi dihargai, dan aku
tinggal menunggu waktuku berhenti”, Dono tidak tau harus bereaksi seperti apa
atas ucapan itu. Ia pun bingung harus berbuat apa atas kelakuan pamannya yang
buruk itu.
Kakeknya sering sakit – sakitan.
Menurut Dono Kakeknya akan sembuh cepat atau lambat. Namun, pada kenyataannya
semakin lama kondisinya semakin memburuk. Tepat pada tahun ke-6 sakitnya
seperti tidak dapat disembuhkan lagi. “Mereka” yang mengurus kakek sudah
menyerah, pun mereka PAMRIH. Berharap mendapatkan sesuatu darinya. Sampai saat
itu Dono tersadar, tidak ada kebaikan yang diberikan tanpa pamrih, segala
kebaikan yang dilakukan manusia sedikitnya “mereka” berharap kebaikan lain
kembali kepadanya (secara spesifik).
Namun, begitulah. "Hiduplah dalam kenyataan" kata Dono. Kebaikan yang saat ini diterima, belum tentu mereka tidak akan mengungkit. Maka dari itu jangan sampai meminta terlalu banyak dan jangan sampai semuanya menagih kebaikannya padamu, sedikitpun. Perjalanan ini menyadarkan, bahwasannya seseorang yang sebenarnya keluarga, seringkali berprilaku seperti penjahat, dan seseorang yang bukan keluarga, malah seringkali menjadi penolong disaat - saat kesulitan atau hilang arah.
Komentar
Posting Komentar