Postingan

Berani Bertindak atau Berani Diinjak?

Di sebuah meja yang sama,  terdapat tiga kepala yang sedang duduk dengan mimpi yang dipaksa searah. Masing masing memiliki nama, mereka adalah warna.  Mereka bukan warna primer dan tidak bisa berdiri sendiri. Namun, mereka tercatat dalam sebuah sejarah kecil peradaban. Tercipta dari kumpulan percampuran warna yang tak selalu selaras.  Mereka adalah Dongker, Magenta, dan Abu. Karakteristik mereka benar-benar berkebalikan. Namun justru di situlah letak ciri khasnya. Dongker hadir seperti kedalaman yang tenang, dan menyimpan banyak rahasia. namun sering kali berubah menjadi gelap yang menelan cahaya. Ia percaya dirinya adalah sebuah kompas,  meski tak jarang lupa bahwa kompas juga butuh peta. Dongker mulai berani dan percaya diri,  maka ia berdiri paling depan dengan suara paling lantang, ia rasa langkahnya paling benar seperti kompas dunia hanya menunjuk ke arahnya.  Mungkin, itu adalah bentuk kepercayaan diri yang tiada habisnya karena menimbun ribuan pujian...

"Kacang Lupa Kulit (?)"

  Di perjalanan ini, ada pasangan tua yang sempat hidup bahagia, sampai pada suatu ketika salah satu dari dua orang tersebut mati. Kematiannya cukup meninggalkan bekas pada beberapa orang, terutama pada seseorang cucu yang takut dimarahi oleh seisi dunia akan kesalahan yang tidak sengaja ia buat.  Mundur ke beberapa waktu silam, hidup seorang nenek dan kakek yang di masa tua-nya masih bekerja, dan mungkin menurut mereka itulah “kehidupan di masa tua yang mereka inginkan”, entah karena memang ingin atau karena keadaan.  Di suatu ketika Sang Nenek mengalami kecelakaan yang menyebabkan tulang lengannya patah. Waktu pun berlalu, ada 2 cucu yang sedang asyik bercanda dengan sang nenek. Sebut saja namanya Dono dan Dana.  Lengan Nenek tidak sengaja tersenggol oleh Dono, nenek masih tertawa namun tak kuasa menahan sakit di tangannya yang sedang dalam masa pemulihan, ia pun menangis tanpa sadar. Nenek tidak marah sama sekali. Namun, cucu sudah terlebih dulu mendapatkan ancama...

Bandung, 2024.

"Kenapa Bandung?..." Tanya mereka yang sering menonton tiktok  dengan caption puitis dan lagu sendu. Di Bulan Agustus, menginjakan kaki di kota ini terasa menyegarkan, seperti pelarian yang diatur dengan sempurna.  "Perjalanan ini menyenangkan" ucapku. Katanya, "Bumi Pasundan Lahir Saat Tuhan Sedang Tersenyum" Mungkin itu alasan yang cukup kenapa memilih kota ini. Apakah memori baik akan selalu terulang dengan menyenangkan?, Belum tentu .  Nyatanya, berbanding tebalik dengan yang terjadi di bulan Oktober - November kala itu. Bahkan, ketika pertanyaan itu dilo ntarkan (lagi), Saya tidak tau jawabannya apa selain, t-e-r-p-a-k-s-a .  "Memangnya kota apa ini?", "Apa yang menarik dari sini?", "Apa yang membuat kota ini spesial?", Pertanyaan itu semua muncul karena seketika tidak ada yang menarik perhatian di kota ini, rasanya hanya menimbulkan kebingungan dan kesengsaraan yang asing. Saya bisa saja setelah itu berjalan - jalan me...

Segelas Kopi Americano Sebelum Kapalnya Karam

Aku suka Kopi.  Apalagi jika di tambahkan dengan sedikit gula dan es batu yang menjadikannya dingin, kata barista yang sering kutemui, "Namanya  Americano, Bukan kopi asli tetapi rasanya masih jujur dengan karakteristiknya" .  Kalimat itu selalu menempel di kepala, seolah mengingatkanku bahwa hal-hal yang jujur tidak selalu harus murni.  Akhir - akhir ini, kriteria Americano dengan takaran  Double Shoot, Less Sugar,  ukuran  Large sedang menjadi favo ritku. Biasanya aku memesan setelah bertanya pada diri sendiri, “Lambungku hari ini aman nggak, ya?”, semacam ritual kecil sebelum kembali menyelam ke hari yang riuh. C ocok untuk  doppingan  keseharian yang penuh dengan hiruk pikuk Ciputat.  Terlalu ribut, terlalu penuh, terlalu cepat.  Tiap tegukan bukan sekadar kafein, tapi semacam alarm halus bahwa hari ini harus tetap dijalani.   Mungkin ini caraku bertahan. Mungkin ini bentuk lain dari merawat kewarasan. segelas ko...

Kultus Sunyi Dalam Kepala yang Ramai

Sore itu saya hanya duduk diam di Kampus. Membuang waktu seolah tidak memiliki kesibukan apapun.  Bukan untuk lari, apalagi meratapi apa yang terjadi. Namun, mencoba untuk mengevaluasi bahwasannya "Mungkin, selama ini saya hanya dimanfaatkan oleh sistem yang mengajarkan untuk mandiri tak pernah peduli pada sesama". Tidak pernah ada orang lain yang hadir disaat situasi menjadi genting, Tapi, i ronisnya, saya dipaksa untuk selalu ada seperti malaikat di pundaknya, padahal mereka pergi entah kemana saat saya mulai rapuh.  Sampai detik ini banyak sekali omong kosong yang hadir menyelimuti relung fikiran saya. Ketika saya terlahir, saya di didik untuk setiakawan, kompak dan senantiasa mengedepankan kebersamaan. Namun, dalam setiap rasa sakit yang saya rasakan, tidak pernah ada yang peduli. Bahkan saya sampai lupa, kebersamaan yang seperti apa yang mereka maksud itu?  Ibarat menjadi payung dikala badai,  yang mengharuskan saya untuk bertanggung jawab penuh, ...